ElektraNews.Com - Majalah Elektra

 

November 05, 2012 18:02

Dendam Sampai (harus) Mati

 

 

Dendam Sampai (harus) Mati

 

Bagi sebagian orang, harga diri adalah segalanya, dan sebuah dendam hanya bisa diselesaikan dengan pembunuhan atau disimpan sampai mati. Sedangkan menyimpan dendam adalah memperbesar resiko stroke. Jadi, memang sebuah dendam, harus disalurkan dengan pembunuhan, daripada mati sendiri karena stroke.
 
Saya kuliah di kota yang sangat indah. Waktu liburan juga sangat indah dengan pergi ke sebuah danau nan damai. Namun kota ini lebih terkenal dengan budaya penduduknya yang tidak pernah mengenal kata dendam, walau secara anatomi, penduduknya bicara lantang tapi semua orang setuju bahwa penduduknya pemaaf dan tidak pendendam. Jika anda menghamili anak gadisnya trus anda nangis-nangis minta maaf sambil berlutut pegang kakinya dan bilang bahwa itu adalah satu-satunya cara agar anda bisa menikah dengan anaknya karena anda tidak punya uang untuk melamar secara resmi, maka anda akan di maafkan, dinikahkan dengan anak gadisnya trus dikasi warisan. Hore....
 
Tetap bermukim di sekitar kampus sampai mati adalah dambaan banyak orang. Namun tidak banyak orang punya nasib baik seperti itu. Sebagian besar harus pergi dari kampus ke kota lain, dengan budaya lain. 100% karena orang tua / mertua tidak punya kekayaan yang cukup untuk modal menjalani kehidupan selamanya dekat kampus. Menjalani hidup di kota lain, tentulah dengan budaya yang tidak sama dengan kehidupan waktu kuliah.
 
Dengan alasan etika, saya tidak menyebutkan nama daerah atau suku bangsa. Namun ada kebudayaan / suku bangsa di Indonesia yang terkenal dengan dendam sampai mati-nya.
 
Hal utama yang harus dibayar dengan nyawa, adalah jika anda mempermalukan dia di depan umum. Misalnya dia adalah anak buah anda dan trus anda marahi dia karena kesalahan dia di dalam meeting. Maka artinya, adalah wajib bagi-nya untuk menghabisi nyawa anda karena harga dirinya telah ter-usik.
 
Orang itu tidak memperlihatkan gejala tersinggung. Tidak marah. Ia mungkin akan baik atau sangat baik pada anda. Tapi dalam kebudayaan yang masih terjadi 20 tahun yang lalu, anda akan diajak ke suatu tempat dimana memungkinkan baginya untuk menikam jantung anda berkali-kali. Untuk kebudayaan sekarang, mungkin tidak akan banyak beda, ia akan melepaskan dendamnya dengan berbagai cara yang seringkali lebih berat dari pembunuhan, misalnya mengeluarkan fitnah dan banyak cara lainnya.
 
Berada di luar kebudayaan asal seringkali adalah keterpaksaan. Banyak orang yang membawa serta kebudayaan asal di tempat bermukim dan ini sering menimbulkan banyak masalah. Mungkin akan lebih baik banyak bertanya tentang apa dan bagaimana budaya di tempat baru.
 
Dalam kasus di atas, tidak masalah jika ada anak buah anda bersalah, trus anda ajak ke ruang kerja anda dan anda caci maki dan marahi dia sesuka anda, selama hal ini tidak diketahui oleh orang lain, maka ia tidak akan menyimpan dendam pada anda. Tapi jika ia dipermalukan di depan umum, artinya anda hanya menghitung hari untuk dibunuh. Sebaiknya jauh lebih waspada jika dia menjadi sangat baik kepada anda, mungkin ia cuma menunggu waktu untuk meracun anda.

 

Intinya, terlepas dari mana asal seseorang, sebuah sopan santun dan ber-etika, lebih dibutuhkan setelah tamat kuliah, bahkan terhadap anak buah sendiri. Jika di bangku kuliah kita bisa berbuat agak bebas, tapi waktu bekerja banyak sekali batasan-batasan yang tidak terlihat, tidak tertulis tapi harus dipatuhi. Di samping budaya suatu daerah, dalam bekerja, budaya pribadi seseorang, akan sangat berpengaruh, terutama tentang budaya dan kebiasaan atasan. Salah dan benar bisa terbalik-balik pada orang yang berbeda. Ada yang kaku terhadap aturan tertulis, ada yang longgar terhadap aturan tertulis asal pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik, dll.

 

Info :

 

 

 

 

 

 


 

 

           Home           

           Sitemap & Artikel Lainnya           

 

 Powered by 

 mesinantrian.com 

 hitech-plaza.com 

 hitechindonesia.com