ElektraNews.Com - Majalah Elektra

 

November 05, 2012 18:02

Sosialis Versi Kapitalis

 

 

 

Sosialis versi kapitalis adalah sosial yang tidak ikhlas. Sosial yang ada mau-nya. Ada udang di balik batu. Sosial karena mengharapkan sesuatu, baik langsung atau tidak langsung. Kenyataan ini ada di tengah-tengah kita saat ini dan tidak mungkin lagi untuk dihindari apalagi dibenci.

Berbeda dengan sosialis versi sosialis, dimana orang melakukan kegiatan sosial dan tidak mengharapkan apa-apa, baik langsung ataupun tidak langsung. Sayangnya kondisi ini sudah sulit ditemui saat ini.

Tulisan ini membatasi bahwa sosialis adalah sosialis dan kapitalis adalah kapitalis. Sosialis bukanlah komunis dan kapitalis bukanlah imperealis / penjajahan.

Sebuah perusahaan air mineral, mengeluarkan uang beberapa juta rupiah untuk membeli pipa paralon untuk kebutuhan air bersih di Nusa Tenggara. Tapi perusahaan itu mengeluarkan puluhan miliar rupiah untuk biaya iklan TV dan mengatakan bahwa mereka telah menyumbang pipa paralon di daerah tandus di Nusa Tenggara dan iklan ini disiarkan di seluruh stasiun TV swasta ratusan kali sehari selama bertahun-tahun. Tentu aktifitas sosial untuk membeli pipa paralon tersebut cuma sekedar "kambing hitam" agar terdapat citra bahwa perusahaan mereka adalah perusahaan baik dan peduli lingkungan dan menganjurkan agar masyarakat membeli produk mereka karena keuntungan mereka sebagian kecil (kecil sekali) dipakai untuk aktifitas sosial.

Saat gunung Merapi di Jawa Tengah meletus tahun lalu, banyak perusahaan "seolah-olah" hadir untuk membantu dan memasang spanduk besar-besar tentang perusahaan mereka di kawasan bencana. Padahal bantuan ini tidaklah berasal dari kas perusahaan itu tapi berasal dari sumbangan pelanggan mereka dan dari masyarakat umum. Mereka mendapat manfaat sebesar-besarnya dari iklan dan citra, sedangkan sumbangan yang diberikan hanya beberapa dus mi instan dan uangnya juga bukan berasal dari dompet perusahaan mereka tapi berasal dari sumbangan pelanggan mereka.

Banyak pihak secara perorangan atau secara corporate menyumbang sesuatu, dengan memanfaatkan momentum kegiatan tertentu seperti ulang tahun sebuah lembaga, tahun baru, kegiatan keagamaan dan lain-lain dan seringkali mereka numpang iklan gratis dan iklan ini dibiayai panitia dan panitia dibiayai anggota komunitas yang mengadakan acara. Mereka mendapat seluruh manfaat berupa iklan, citra, dll dengan hanya memberi sedikit dan seringkali yang sedikit itu juga bukan dari dompet sendiri, tapi dari pihak lain, termasuk dari perusahaan tempat bekerja.

Sekitar tahun 1990 RCTI hanya dinikmati oleh sebagian orang yang membayar dan di TV dipasang dekoder. Saat ini TV swasta memberi banyak pelayanan dan seluruhnya dibayar oleh perusahaan-perusahaan yang ingin menampilkan produk mereka. Bagi perusahaan pengiklan dan perusahaan TV swasta, yang penting bukanlah anda bisa menikmati siaran TV termasuk berita, film dll, tapi bagi mereka yang penting anda menonton iklan mereka dan beli produk yang diiklankan itu, walau bagi anda, iklan itu seolah tidak penting dan film-nya-lah yang penting. Inilah sosialis versi kapitalis.

Saya tidak tau apakah melakukan kegiatan sosial dengan berharap pahala dari Tuhan seperti sedekah, zakat dll juga termasuk kapitalis atau tidak. Tapi ini termasuk aktifitas sosial yang mengharapkan imbalan, yaitu dari Tuhan. Entahlah, seandainya Surga dan Neraka itu tidak akan pernah ada, apakah orang akan tetap berbuat baik dan tidak berbuat buruk serta tetap berlaku sosial atau tidak.

Satu hal yang pasti, bahwa sosialis versi kapitalis (sosialis tidak ikhlas, ada mau-nya), adalah bagian dari kehidupan kita saat ini, dan sosiali versi sosialis (sosialis ikhlas) mungkin sudah sulit di harapkan terjadi saat ini.

Di satu sisi, jika kita berada di sisi penerima, dengan mengetahui fenomena diatas, maka kita bisa bersifat realistis dengan memberi umpan untuk mendapat ikan. Misalnya, jika ada sumbangan, maka nama penyumbang akan diumumkan secara terbuka dengan asumsi si penyumbang berharap di hargai atau berharap dapat ketenaran. Bisa juga dengan memberi umpan dalam bentuk lain, misalnya menjual baju kaos yang modalnya 10 ribu dan dijual 100 ribu dengan alasan keuntungannya untuk aktifitas sosial. Bisa juga dengan menjual buku alumni atau gantungan kunci dan produk-produk spesifik lainnya.

Sebaliknya mungkin saja sudah sangat sulit (menghayal) untuk berharap orang akan memberikan hibah tanpa syarat, kalau perlu uang tinggal ambil dan penyumbang tidak mendapat apa-apa, termasuk tidak dapat apa-apa dari Tuhan karena tidak tergolong sedekah jika memberi makan orang kaya, atau memberi baju kaos kepada orang yang tidak butuh baju kaos karena sudah terlihat lucu karena sudah terlalu gendut. Yang paling tidak mungkin adalah mengharapkan orang mau bayar tiap bulan / potong gaji untuk bayar iuran dari sebuah kegiatan organisasi yang tidak bersifat sosial seperti organisasi bantuan untuk orang miskin, bantuan untuk bencana, dll tapi organisasi orang yang berpenghasilan lebih dari 10x UMR.

 

 

Info :

 

 

 

 

 

 


 

 

           Home           

           Sitemap & Artikel Lainnya           

 

 Powered by 

 mesinantrian.com 

 hitech-plaza.com 

 hitechindonesia.com