ElektraNews.Com - Majalah Elektra

 

November 05, 2012 18:01

Pilihan Pilihan Investasi

 

 

Secara umum, investasi dibedakan atas 2 golongan, pertama adalah investasi aktif, dimana pemilik uang menyumbangkan tenaga, waktu dan keahliannya disamping menginvestasikan uangnya dan yang kedua adalah investasi pasif, dimana pemilik uang tidak perlu menyumbangkan tenaga, waktu dan keahliannya untuk mengembangkan uangnya.

 

Investor aktif perlu punya keahlian yang sesuai dengan bidang investasinya. Ia juga meluangkan waktu dalam hal ini, menjadi pekerja dan ia mendapatkan hasil usaha yang beragam, mulai dari 20% sehari sampai dengan bangkrut berkali-kali. Ia juga menanggung seluruh resiko usaha termasuk kepastian akan BEP (break Event Point) atau titik impas atau sebuah kenyataan bahwa setiap usaha baru bisa mendatangkan keuntungan beberapa tahun setelah dimulai. Tidak bisa hari ini pensiun, besok buka usaha dan lusa sudah untung. Jelas sekali hal ini tidak mungkin menurut teori ekonomi manapun yang sudah diuji ribuan kali kebenarannya.

 

Dalam tulisan ini, investasi aktif tidak dibahas dan yang dibahas hanyalah investasi pasif, dimana tidak dibutuhkan keahlian, tidak perlu ada resiko bangkrut dan tidak ada hukum BEP, artinya keuntungan bisa diperoleh segera setelah investasi dilakukan, misalnya setelah satu bulan.

 

Investasi tidak bisa hanya dinilai dari angka perolehan keuntungan, tapi harus mempertimbangkan banyak hal termasuk resiko, inflasi, dll :

 

1. Rekening Tabungan di Bank.

Investasi di rekening tabungan di Bank relatif aman jika disimpan di bank terpercaya. Namun dengan inflasi di atas 10% setahun dan bunga bank setelah dikurangi pajak = 3% setahun, maka tentu saja makin lama nilai uang akan semakin turun alias rugi. Namun tabungan di bank dapat dicairkan kapan saja, sehingga cukup bagus untuk menyimpan uang dalam tempo relatif pendek sekitar 3 bulan.

 

2. Rekening Deposito di Bank.

Sama seperti di rekening tabungan di Bank, investasi di rekening deposito di bank relatif aman jika disimpan di bank terpercaya, namun dengan inflasi di atas 10% setahun dan bunga deposito setelah dikurangi pajak adalah sekitar 6% setahun, tetap saja nilai uang akan semakin berkurang alias rugi. Disamping itu deposito hampir tidak bisa dicairkan sebelum jatuh tempo sehingga tidak bisa dijadikan investasi jangka pendek. Kalaupun dicairkan akan dikenakan potongan sehingga hasilnya adalah rugi.

 

3. Menyimpan Dolar di Bank atau di Rumah.

Menyimpan uang dolar di bank akan mendapat bunga sangat sedikit, sekitar 1% setahun setelah dikurangi pajak. Nilai dolar juga relatif untuk jangka panjang, tidak selalu naik. Tapi nilainya akan selalu stabil dibandingkan nilai barang import. Menyimpan uang di rumah juga mempunyai resiko kehilangan atau dibutuhkan biaya penyimpanan untuk membeli brankas dll.

 

4. Obligasi.

Obligasi resmi yang dikeluarkan pemerintah, danareksa atau perusahaan publik mempunyai bunga sekitar 12% sebelum pajak. Ini bisa dianggap impas dengan inflasi. Hanya saja obligasi sulit untuk dijual sebelum jatuh tempo sekitar 7 tahun. Sehingga obligasi cukup cocok untuk investasi jangka panjang seperti untuk dana pensiun.

 

5. Asuransi Dana Pensiun.

Asuransi dana pensiun menawarkan bunga setara deposito. Asuransi ini juga tidak dapat dicairkan sebelum jatuh tempo, walau sedang butuh duit. Hanya saja asuransi mewajibkan adanya penyetoran premi tetap dalam jangka waktu lama padahal dalam jangka waktu lama, semua hal bisa saja terjadi. Jika tidak ada masalah selama masa polis, maka asuransi merupakan pilihan baik, tapi jika dipecat bekerja atau kesulitan keuangan sebelum periodenya berakhir, tentu akan terjadi masalah. Jadi asuransi adalah pilihan cocok bagi mereka yang bekerja di perusahaan stabil dan sangat kecil kemungkinan di PHK.

 

6. Tanah.

Investasi tanah menjanjikan nilai yang bertambah melebihi angka inflasi terutama untuk daerah yang punya potensi untuk berkembang pesat. Terdapat resiko tertentu seperti kondisi sengketa, digusur dll. Peningkatan nilai ini juga tidak dipotong pajak langsung seperti investasi via bank. Untuk mengurangi / menyebarkan resiko, akan lebih baik untuk memiliki beberapa tanah dalam ukuran yang lebih kecil dibanding satu tanah dengan ukuran besar. Hanya tanah relatif sulit dijual dan umumnya membutuhkan waktu sekitar 3 tahun untuk bisa terjual.

 

7. Rumah Kontrakkan.

Sama dengan investasi tanah, investasi berupa rumah atau rumah kontrakkan juga cukup baik. Hanya rumah bisa disewakan, walau nilai rumah akan berkurang sejalan dengan umur rumah. Nilai tanah dengan rumah tetap lebih tinggi dibanding dengan inflasi, ditambah dengan keuntungan dari menyewakan rumah. Terdapat resiko kebakaran yang dapat ditanggulangi dengan ikut asuransi kebakaran. Rumah juga cukup sulit untuk dijual kembali jika ada kebutuhan keuangan.

 

8. Menyimpan Emas.

Cara sangat tradisional dan ampuh dalam investasi adalah menyimpan emas. Nilainya akan selalu bertambah lebih tinggi daripada inflasi. Emas juga bisa dipakai sebagai perhiasan. Emas juga dapat segera dijual. Hampir tidak ada penyesalan orang dalam menyimpan emas. Dalam jumlah yang relatif besar, dibutuhkan brankas atau media penyimpanan lain.

 

9. Investasi Langsung Sementara.

Investasi langsung sementara adalah penyertaan modal terhadap unit usaha, baik oleh orang lain, maupun rekan atau saudara sendiri. Investasi sementara mempunyai batas waktu tertentu atau tidak ada batas waktu, tapi nilai modalnya pasti kembali dalam jumlah yang sama. Umumnya keuntungan yang diperoleh berdasarkan kesepakatan dan umumnya 15% setahun. Pencairan dana sebelum waktu yang ditentukan umumnya bisa dilakukan berdasarkan kesepakatan, misalnya 6 bulan setelah pemberitahuan. Dalam investasi langsung sementara ini, keuntungan akan tetap diberikan / berjalan walau perusahaan penerima dalam keadaan rugi atau bangkrut. Biasanya juga diberikan keuntungan extra jika perusahaan penerima dalam keadaan untung banyak.

 

10. Investasi Langsung Permanen.

Berbeda dengan investasi langsung sementara, pada investasi langsung permanen, pemilik modal tidak bisa menarik kembali modal yang sudah disetor alias tertanam permanen. Berdasarkan hukum BEP (Break Event Point) atau titik impas, maka selama 3 tahun pertama atau lebih, maka perusahaan akan dalam posisi rugi dan pemilik modal harus rutin menambah modalnya, sampai suatu ketika yaitu pada saat BEP tercapai, maka perusahaan dalam posisi tidak untung dan tidak rugi dan setelah itu baru untung dan kadang kadang rugi. Jumlah keuntungan perusahaan sangat tergantung dari banyak hal dan ini selalu tidak pasti dari waktu ke waktu sehingga tidak ada keuntungan pasti 15% setahun seperti pada investasi langsung sementara. Namun misalnya jika dalam 10 tahun kekayaan perusahaan meningkat 1000%, maka seluruhnya menjadi milik investor, sesuai dengan persentase penyerahan modal, demikian pula jika rugi. Namun investor pasif yang tidak ikut mengelola perusahaan mendapat perlindungan dari undang-undang sehingga kerugian terbesar yang akan ia tanggung adalah sebanyak modal yang telah di setor, sedangkan investor aktif yang ikut mengelola perusahaan, seluruh kerugian perusahaan tidak hanya sebatas modal yang sudah disetor, tapi juga bisa terikut ke kekayaan pribadi seperti rumah pribadi yang harus dijual untuk menutupi hutang, jika perusahaannya bangkrut.

 

 

Info :

 

 

 

 

 

 

 

 

           Home           

           Sitemap & Artikel Lainnya           

 

 Powered by 

 mesinantrian.com 

 hitech-plaza.com 

 hitechindonesia.com