ElektraNews.Com - Majalah Elektra

 

November 05, 2012 18:00

Istilah 'Harga Keekonomian' dan istilah 'Subsidi' sebagai upaya cuci otak masyarakat dengan cara membentuk opini publik

 

 

Istilah 'Harga Keekonomian' dan istilah 'subsidi' sebagai upaya cuci otak masyarakat dengan cara membentuk opini publik 

 

Ini adalah cerita tentang kejadian di suatu negara tetangga yang bernama Majapahit.

Negara itu menyatakan keluar dari OPEC dengan alasan bahwa negara itu sudah menjadi Net Importir untuk produk BBM, artinya total produksi dalam negeri sama dengan total konsumsi dalam negeri, lebih sedikit atau kurang sedikit. Artinya negara itu pada hakikatnya tidak pernah mengimport BBM ke negara lain, walau kenyataannya harga BBM dalam negeri tergantung kepada harga BBM internasional, sungguh suatu hal yang tidak ada hubungannya.

Minyak disedot dari perut bumi dengan biaya sekian, anggaplah untuk menghasilkan 1 liter bensin dibutuhkan biaya seribu rupiah. Biaya ini tidak dibayar negara dalam bentuk uang tunai tapi dalam bentuk bagi hasil dengan kontraktor production sharing bidang perminyakan. Kemudian ada biaya penyulingan minyak mentah menjadi bensin, anggaplah untuk 1 liter bensin dibutuhkan biaya seribu rupiah. Ini adalah biaya real (modal) yang dikeluarkan termasuk untuk menambahkan aditif dan lain-lain sehingga dihasilkanlah bensin satu liter. Jadi modalnya seribu rupiah untuk lifting dan seribu rupiah untuk penyulingan, jadi modalnya 2 ribu rupiah. Bensin itu kemudian dijual di dalam negeri dengan harga 4500 rupiah, jadi ada untung 2500 rupiah setelah dikurangi modal. Harga bensin di singapura yang bukan negara penghasil minyak anggaplah 6000. Pemerintah negara itu menganggap nilai 6000 ini adalah nilai ke ekonomian dan mengatakan selisih harga jual 4500 dengan harga di singapura 6000 = 1500 disebut sebagai subsidi yang nilainya langsung dipotong dari APBN. Artinya ada keuntungan 2500 tadi ditambah APBN yang dipotong 1500 rupiah per liter bensin, tidak jelas masuk ke kantong siapa. Tentunya saya tidak mengerti tentang hal ini, karena satu-satunya cara yang saya mengerti untuk mencari nafkah setelah tamat kuliah adalah dengan beli koran, kirim surat lamaran, tunggu pak pos dirumah yang kemungkinan mengantar surat panggilan interview, atau kalau zaman sekarang panggilan interview dilakukan via HP dan email. Saya juga tidak mengerti, kok ada orang yang bersedia mengeluarkan uang dalam jumlah yang sangat banyak untuk kampanye agar terpilih di pemilu. Padahal gaji kepala negara saja sepertiga dari gaji direktur BUMN. Bukankah gaji 5 tahun dikurangi modal kampanye pemilu = rugi ?

Istilah 'harga keekonomian' adalah harga termahal di dunia, padahal kenyataannya pemerintah tidak membeli dengan harga segitu karena net importir artinya produksi dalam negeri sama dengan kebutuhan dalam negeri alias tidak mengimport, dan istilah 'subsidi' yang kenyataannya dipotong langsung dari APBN. Dengan penjelasan terus menerus sehingga membentuk opini publik, dalam jangka waktu lama, akan di-amin-ni / diterima / dianggap benar oleh masyarakat, artinya telah terjadi upaya cuci otak, yaitu bahwa benar pemerintah membeli bensin 100% di Singapura (artinya produksi dalam negeri = 0) dengan harga 6000 rupiah dan menjual di dalam negeri 4500 rupiah dan adalah benar subsidi yang dipotong dari APBN sebesar 1500 rupiah per liter bensin telah disetor ke Singapura untuk menutupi selisih harga.

Tentu terserah kepada pemerintah untuk mengenakan pajak atas produk karena itu memang wewenang pemerintah. Tapi dalam contoh di atas, dalam status sebagai pedagang, pemerintah dengan modal 2000 rupiah, bensin dijual 4500 rupiah dengan harga bensin di singapura 6000, maka ada uang APBN yang diambil dengan alasan subsidi sebesar 1500 rupiah ditambah keuntungan real 2500 = 3500 rupiah per liter yang tidak jelas masuk ke kantong siapa, dan hal ini dapat diterima oleh seluruh masyarakat karena telah terjadi cuci otak masyarakat dengan membentuk opini publik, tentulah perlu dicari jalan kebenaran untuk kepentingan rakyat.

Pada suatu ketika, pemerintah negara itu menaikkan harga bensin dari 2500 rupiah ke 6000 rupiah. Kemudian menurunkannya 500 rupiah ke 5500 rupiah dan menurunkannya 500 rupiah ke 5000 rupiah kemudian menurunkannya 500 rupiah ke 4500 rupiah. Dalam kampanye pemilu pemerintah mengatakan telah menurunkan harga bensin sebanyak 3 kali dan melupakan bahwa pemerintah itu pernah menaikkan harga bensin dari 2500 rupiah ke 6000 rupiah. Rakyat percaya dengan penurunan bensin 3 kali dan lupa bahwa sebelumnya harga bensin adalah 2500. Pemerintah itu menang sekali lagi dalam pemilu. Semua ini adalah berkat upaya mencuci otak masyarakat dengan opini publik dan membenamkan doktrin bahwa ini benar dan itu lupakan saja.

 

Sebenarnya topik di atas adalah sekedar pengantar dan bukan topik utama dari artikel ini. Inti dari artikel ini adalah upaya opini publik, dalam jangka panjang dapat digunakan untuk menentukan penilaian masyarakat tentang suatu hal, misalnya pada zaman dahulu ada teori Nicolaus yang mengatakan bumi itu datar dan ada teori geosentrisme yang menyatakan bumi sebagai pusat tata surya artinya matahari mengelilingi bumi. Artinya, opini publik dapat membuat publik percaya bahwa yang salah itu adalah benar dan sebaliknya. Tentu jauh lebih mudah jika hanya sekedar menginginkan publik percaya bahwa yang benar itu dianggap benar.

Sebagai ilustrasi, misalnya ada seorang alumni, sebutlah namanya Edi (bukan nama sebenarnya). Pada waktu kuliah dia menjadi asisten lab telkom pada periode tahun 1989 sampai dengan periode tahun 1993. Semua orang yang pernah mengenal dia, apalagi pernah praktikum dasar telekomunikasi dalam periode itu, akan tau kalau dia adalah asisten yang paling bejat dan korup karena beberapa pasien-nya cukup bayar (ngolah) 20 ribu rupiah, maka tidak perlu buat laporan praktikum dan lulus dapat nilai C, kalau nilai B, tarifnya lebih mahal. Sesuai dengan perjalanan waktu, terlihat ada upaya jangka panjang untuk membentuk opini publik agar dia untuk lebih dianggap kapitalis, tidak punya hati nurani, biadab, tapi tidak korup. Mungkin itu adalah upaya untuk membentuk opini publik dalam rangka cari makan untuk bekerja sebagai top management, konsultan, managing partner, dll, yang tentu saja diharamkan untuk memiliki mental sosialis, terlalu berpihak pada karyawan, dan hal lain yang tidak menguntungkan pemilik perusahaan, berseberangan dengan pemilik perusahaan dan memihak karyawan. Sekali lagi, ini adalah contoh, bukan nama sebenarnya dan jika ada yang kebetulan mirip, ini adalah hal yang tidak disengaja.

Tentu saja upaya cuci otak masyarakat dengan cara membentuk opini publik, adalah upaya jangka panjang dan dapat diterapkan oleh siapa saja untuk kepentingan pribadinya. Misalya, jika nama anda alex, anda bisa buat web site alex.com dan membentuk opini publik disitu, misalnya jika anda 10 tahun lagi ingin terlibat dalam partai politik, atau jadi pemuka agama, dll.

Opini publik biasanya dibentuk dalam rentang waktu belasan tahun. Dengan cara ini orang bisa membenarkan sesuatu yang salah dan sebaliknya. Jadi aneh saja jika ada orang yang tiba-tiba jadi caleg partai politik dan setelah tidak terpilih, tidak pernah lagi terdengar punya kegiatan politik.

Jadi apapun yang anda rencanakan belasan tahun lagi, mulailah mengarah ke rencana itu mulai sekarang. Dalam proses jangka panjang, sesuatu yang sulit bisa menjadi mudah. Sesuatu yang gelap, bisa jadi terang, dengan latihan teratur, orang bisa belajar di setrum listrik dengan tegangan rendah dan lama-kelamaan tegangannya dinaikkan dan pada akhirnya orang itu hanya kaget sedikit jika kesetrum listrik 220 Volt.

Beberapa orang dengan tidak sengaja, telah membentuk opini publik. Ada orang yang terlihat sangat membenci kapitalis, sangat membenarkan salah satu agamanya, sangat membenci pemerintah, dll. Seringkali hal itu justru merugikan dirinya sendiri karena secara langsung, orang orang yang tidak sepihak, akan takut berurusan dengan orang itu. Padahal keberpihakan tersebut kadang tidak menguntungkan dirinya misalnya orang yang seharusnya bisa menjadi rekan bisnis yang menguntungkan dirinya secara materi, justru akan menjauh karena merasa berseberangan.

Saya sendiri memisahkan account facebook sesuai dengan komunitas. Jadi ada account untuk rekan dari Medan, ada account lain untuk rekan satu SMA, account lain untuk komunitas lainnya. Tentu saya tidak nyaman jika saya buat status atau komentar dalam bahasa minang atau mengenai agama Islam dan ini dibaca oleh rekan saya dari Medan yang tidak mengerti bahasa minang dan bukan beragama Islam. Dengan demikian saya bisa membentuk opini publik, sesuai dengan kebutuhan komunitas tertentu, bisa membuat beberapa kepribadian berbeda, tergantung kebutuhan komunitas. Misalnya tentu saja rekan saya yang cuma tamat SMA dan tidak punya uang untuk kuliah, akan tidak nyaman jika membaca artikel saya yang ditujukan untuk komunitas alumni elektro USU.

Dalam pepatah lama disebutkan : kalau pergi ke kandang kambing, ya mengembek, kalau pergi ke kandang ayam, ya berkokok. Tentu tidaklah disarankan kalau ke kandang ayam, berprilaku seperti musang atau ke kandang kambing berprilaku seperti harimau.

Kebalikan dari itu, ada beberapa rekan yang sering dengan sengaja menulis istilah dalam bahasa asing yang hanya dia sendiri yang mengerti artinya dan tidak dimengerti artinya oleh anggota komunitas yang membaca status atau komentarnya, untuk tujuan yang tidak saya mengerti. Mungkin ia ingin membuat opini publik bahwa dia adalah setetes minyak dalam seember air. Tidak berusaha membaur, tapi berusaha tampil beda, dengan harapan agar dia dianggap lebih hebat dari seluruh orang dalam komunitasnya. Artinya, dia menyombongkan diri, menepuk dada dan menganggap anggota komunitas yang lain mempunyai kasta yang lebih rendah dari dirinya.

 

Info :

 

 

 

 

 

 

 

           Home           

           Sitemap & Artikel Lainnya           

 

 Powered by 

 mesinantrian.com 

 hitech-plaza.com 

 hitechindonesia.com