ElektraNews.Com - Majalah Elektra

 

November 05, 2012 18:00

Hutan rimba belantara kehidupan sesudah wisuda

 

 

 

Ada sebuah kehidupan yang hampir seragam bagi semua Alumni S1 sampai dengan wisuda yaitu sekolah, trus ujian, trus kuliah trus trus trus wisuda.
 
Ada banyak hal yang telah kita lalui selama kuliah. Nyontek, ngolah dan banyak hal lain yang semuanya telah kita lupakan dan semua kita mengklaim bahwa selembar ijazah sarjana didapat hanya dengan satu cara yaitu hasil kerja keras yang halal.
 
Hanya saja, setengah hari sejak wisuda, setiap orang mempunyai kehidupan unik yang berbeda antara satu dengan yang lain. Meminjam istilah seperti orang buta ketemu gajah, setiap orang punya satu cara untuk melihat kehidupan, yaitu dari sudut pandangnya sendiri. Beberapa orang terjerembab dengan sebuah kesombongan, membusungkan dada yang cukup kasat mata untuk dilihat. Padahal setiap kita, mungkin hanya sedikit lebih baik dibandingkan dengan kondisi kita pada saat kuliah dulu. Sesuatu yang kita anggap hebat dan dibangga-banggakan, bagi orang lain mungkin tidak ada apanya.
 
Singkat kata, setiap kita, memasuki rimba belantara sesuai dengan pilihan masing-masing. Semuanya ada kelebihan dan kekurangannya. Hutan rimba kehidupan yang dimasuki oleh pegawai negeri, tentu beda dengan kondisi yang dihadapi pedagang. Bahwa setiap kita menghadapi hari esok yang sama-sama belum kita ketahui baik buruknya karena kita bukanlah Tuhan yang mengetahui kejadian masa depan, walau beberapa orang menjadi sangat sombong, membusungkan dada seolah kehidupan masa depannya sudah pasti lebih baik dibandingkan dengan orang lain.
 
Didasari oleh kelemahan kita yang hanya mungkin melihat dan menilai dari satu sisi, mungkin sebuah lembaga ikatan alumni dapat bermanfaat agar setiap orang bisa melihat dari kacamata orang lain, dari sisi yang berbeda, tentu untuk tujuan yang baik.
 
Saya pernah ketemu dengan sesama alumni yang sudah bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan besar, tentunya di bagian teknik. Beliau cerita bahwa beliau pernah didatangi oleh famili jauh yang minta agar anaknya dimasukkan bekerja di perusahaan besar tersebut. Teman saya itu jelaskan bahwa ia bekerja di bagian teknis dan ngak punya wewenang. Si famili melihat bahwa rekan saya sudah punya jabatan cukup tinggi di perusahaan besar tersebut, tidak terima dan ngejar rekan saya itu pake parang. Ribut.
 
Saya juga pernah ketemu dengan sesama alumni yang bekerja sebagai kontraktor atau sub-kontraktor. Beliau jelaskan bahwa beliau pernah minta order pengadaan barang atau jasa di perusahaan rekan akrabnya tapi ngak dikasi. Padahal orang tersebut memiliki jabatan yang sangat tinggi di perusahaannya. Tentu bumbu pembicaraan tidak perlu ditulis disini.
 
Teman alumni saya yang lain juga bilang bahwa dia pernah ketemu sahabat akrab dan pinjam duit, tapi ngak dikasi. Dan banyak bumbu pembicaraan lain yang tidak ditulis disini.
 
Berpijak dari sebuah persamaan bahwa kita semua pernah menjalani pendidikan di tempat yang sama. Kemudian menjalani rimba kehidupan yang berbeda. Mungkin beberapa orang bisa menceritakan tentang apa saja yang mungkin tidak diketahui oleh rekan yang lain, karena rimba yang kita masuki tidaklah sama, karena jalan kehidupan kita tidaklah sama. Tentu hal ini jauh lebih bermanfaat daripada meyombongkan diri di email, foto fesbuk dan lain lain.
 
Kita tentu berharap, ada yang menjelaskan bahwa tidak ada satu orangpun, baik direktur utama atau manager personalia di satu perusahaan yang punya wewenang untuk memutuskan langsung sebuah penerimaan karyawan baru, kecuali yang bersangkutan adalah pemilik tunggal dari perusahaan itu. Untuk penerimaan karyawan, haruslah ada proses-proses yang melibatkan calon atasan langsung, personalia, bagian keuangan yang mo bayar gaji dan banyak hal lain. Banyak perusahaan yang justru menyerahkan penerimaan karyawan kepada perusahaan / konsultan di luar perusahaan yang khusus bergerak dalam recruitment.
 
Kita juga tentu berharap, agar ada yang menjelaskan bahwa untuk keputusan pengadaan barang dan jasa, sesuai dengan kepres 80 tahun 2003 dan peraturan di seluruh perusahaan, bahwa tidak ada satu orangpun yang punya wewenang tunggal untuk membuat keputusan pengadaan barang, hal ini harus dilakukan oleh satu team. Kecuali orang ini adalah pemilik tunggal dari perusahaannya.
 
Kita juga tentu berharap, agar ada yang menjelaskan bahwa 100% dari gaji bulanan sudah disetor ke istri masing-masing (kecuali karyawati yang boleh ngabisin duit pencariannya sendiri). Setelah itu 100% uang adalah milik keluarga dan butuh keputusan keluarga untuk pengeluaran uang, termasuk untuk dipinjamkan kepada teman-teman.
 
Memang adalah benar, misalnya di bank, kepala cabang dan seluruh anak buahnya tidak berhak apa-apa tentang keputusan pengadaan barang dan jasa, ini adalah wewenang kepala bagian umum di kanwil yang membawahi sekitar 1 propinsi. Bahkan direktur bank sendiri tidak punya wewenang dalam hal ini. Memang adalah benar bahwa sedikit orang punya banyak informasi untuk ini, misalnya kepala bagian umum atau purchasing manager. Hanya orang ini cuma punya informasi yang bisa dimanfaatkan, walau yang bersangkutan tidak punya wewenang memutuskan. Sebenarnya informasi ini lebih dari cukup bagi kontraktor untuk masuk ke tahap selanjutnya walau dengan mengikuti proses demi proses.
 
Memang adalah benar, kepala bagian personalia mempunyai banyak informasi tentang hal penerimaan karyawan baru dan tau proses-prosesnya, cuma beliau cuma punya informasi berguna tanpa bisa membuat keputusan tunggal. Walau bagi calon karyawan, informasi ini sebenarnya lebih dari cukup untuk menjadi karyawan dengan mengikuti proses demi proses.
 
Memang adalah benar, bahwa saat ini bunga bank adalah 3% setahun, bunga deposito adalah 7% setahun, siapapun pemilik uang akan cukup tertarik jika ada pihak sekitar yang meminjam uang dan mau memberi keuntungan setara bunga 15% setahun, apalagi dengan jaminan yang cukup.
 
Pada zaman sebelum krisis 1998 adalah benar, orang akan lebih dihargai jika punya rumah mewah, punya mobil mewah, sudah ke Mekah dan dipanggil pak haji, punya gelar tertentu, punya ijazah tertentu, punya harta tertentu dan punya jabatan tertentu. Tapi sayang, zaman sudah berubah, orang sudah tidak terlalu peduli dengan kondisi dan kehebatan orang lain selama orang lain tersebut tidak memberi manfaat bagi sekitar, walau orang itu menyombongkan diri, membusungkan dada. Hal ini tidaklah mengundang simpati pada zaman sekarang. Sebuah budi pekerti yang baik, sepanjang zaman akan dihargai orang daripada sebuah stempel yang menjadi alasan kesombongan.
 
Semua kita, termasuk yang baru wisuda, sudah digolongkan kepada orang yang sudah tua. Tentu sudah saatnya kita berubah menjadi orang yang bijaksana. Banyak prilaku yang sebenarnya hanya layak bagi anak sma yang sudah semestinya kita tinggalkan. Banyak perbuatan baik yang bisa kita kerjakan. Salah satunya tentu dengan berbagi pengalaman kepada rekan yang lain yang kehidupannya beda dengan kita. Yang rimba yang dia masuki beda dengan rimba yang kita kuasai. Ikatan alumni, milis, fesbuk, dll adalah sebuah wadah. Sebuah tempat dimana kita melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi rekan alumni yang lain. Tentunya cukup aneh kalau kita beranggapan bahwa kita para alumni sudah terbebas dari masalah kehidupan. Ajaran beberapa agama berpendapat bahwa tidaklah mungkin ada manusia yang tidak punya kecemasan tentang kehidupannya nanti. Kalau kita bertetangga, tentulah kita bisa saling berbagi beras. Tapi sekarang kita bisa berbagi pengalaman atau apa saja yang tidak dirasakan oleh rekan yang lain. Misalnya, saya tentu sangat ingin tau, bagaimana cara menjalani kehidupan sebagai umat islam, tapi berada di negara yang penduduknya hampir tidak ada yang islam, dan seterusnya. Dan seterusnya.

 

Info :

 

 

 

 

 

 

 

           Home           

           Sitemap & Artikel Lainnya           

 

 Powered by 

 mesinantrian.com 

 hitech-plaza.com 

 hitechindonesia.com